Silence Day


 Setelah Car Free Day, ada baiknya kota-kota besar Indonesia juga memberlakukan Silence Day. Orang Bali menyebutnya Nyepi. Tujuannya adalah pembersihan diri, fisik, maupun spiritual. Bumi pun ikut bernafas lega, alam semesta merayakan ketenangan.

 Suara burung, angin, dan air jauh lebih indah dari klakson sepeda motor dan cacian pengemudinya. Televisi yang menyiarkan kegaduhan berhenti sejenak, juga gosip-gosip yang meng-entertain kesusahan orang lain. Banyak orang yang tak menyadari keluhan-keluhan dan rasa bencinya telah memengaruhi perputaran hormon orang-orang lain. Kegelisahan dan rasa iri begitu mudah diedarkan, dengan akun palsu yang dibuat sendiri, gratis pula.

 Tak banyak yang menyadari bahwa energi negatif itu tak lepas dari hukum kekekalan energi, terus menekan tiada henti. Beberapa kali saya berada di tengah-tengah masyarakat Bali menikmati Hari Nyepi. Saya merasa tengah berdialog dengan Tuhan dan penuh kedamaian. Esok paginya, udara jauh lebih bersih. Oksigennya banyak dan segar sekali. Namun, seperti biasa, bagi orang kota yang terperangkap dalam suasana itu, apakah karena pesawatnya tak bisa terbang, atau tugas butuh waktu lebih lama berada dalam suasana itu, sudah pasti menimbulkan kegalauan.

 Bagi orang kota, perubahan selalu disambut dengan kegaduhan dan perlawanan. Khususnya, saat lampu di lorong-lorong hotel dipadamkan, diganti lilin-lilin kecil. Sejumlah orang mengeluh. Beberapa orang yang ingin berlibur merasa telah tertangkap dalam kesunyian. Mau pulang tidak bisa, jadi yang keluar hanya keluhan. Namun, begitu selesai, merekalah yang pertama-tama menyebarkan rasa bahagia. Setiap pengorbanan selalu ada imbalannya, demikian juga setiap amarah ada karmanya.

Aura Negatif

 Kerabat-kerabat saya di Pulau Dewata sering mengucapkan kata “aura positip-aura negatip”. Menurut sahabat-sahabat saya di Desa Kedewatan-Ubud, hampir setiap upacara, umat Bali secara simbolik melakukan pembersihan diri, sekaligus menjinakkan aura-aura negatif. Nafsu duniawi, angkara murka, semua yang jahat dilambangkan dengan warna hitam dan wajah-wajah yang menakutkan.

 Semua itu harus dijinakkan. Di Jakarta kita menyebutnya setan atau iblis. Roh-roh jahat pembawa penderitaan. Sedangkan yang baik-baik, suci, dilambangkan dengan segala yang serbaputih dan berwajah ceria. Hitam dan putih selalu berjalan beriringan. Tanpa ada hitam, tak ada keindahan putih. Bagi saya, sehari saja orangorang kota berhenti beraktivitas dan menjalankan Silence Day, manfaatnya akan banyak sekali. Apalagi bila Catur Brata juga dijalankan: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.

 Berhenti menyalakan api (tidak mengobarkan hawa nafsu), berhenti kerja (fokus pada Tuhan, menyucikan rohani), tidak bepergian (introspeksi diri, kontemplasi), dan tidak mengobarkan hedonisme. Bayangkan, berapa ton karbon hitam yang bisa kita hemat dan berapa juta ton dosa umat manusia, termasuk segala sampahnya, bisa kita bersihkan. Kapitalisme hanya bisa berhenti kalau semuanya berhenti konsumsi bersama-sama. Walau cuma sesaat.

 Buat orang desa, diam berarti emas. Tetapi, buat orang kota, bicara itu emas. Seorang penyiar radio berkelakar, ”Saya dibayar hanya kalau saya bawel.” Entah bicara positif, entah negatif. Pokoknya bicara. Tetapi, bagi orang-orang yang mendengarkan, emas itu baru berkilauan kalau banyak orang diam. Sesuatu yang berkilauan itu hanya tampak dari aura-aura yang positif. Aura-aura positif dan negatif sama-sama saling menularkan.

 Orang tak senang terhadap sesuatu hal akan didukung oleh orang-orang yang juga tidak senang. Provokator pun laris manis, disambut umpatan- umpatan baru. Di sosial media seorang yang menyebarkan kalimat-kalimat negatif jarang dibantah. Yang ada hanya gulungan-gulungan aura negatif. Hanya orang yang punya lentera jiwa yang terang yang berani mematahkan aura-aura negatif itu. Kicauan negatif biasa dijawab dengan umpatan-umpatan yang lebih negatif.

 Seorang dokter yang memasang foto kepala seekor anjing di Facebook-nya bisa-bisanya mengeluarkan umpatan-umpatan liar sambil mengutip kalimat seorang imam (yang juga beraura negatif). Ia seperti tengah melupakan profesinya. Tetapi, begitu dikritik, ia dengan lantang menyebutkan, “Saya dokter di rumah sakit ‘X’.”

 Indonesia yang Lebih Sejuk

 Kalau orang kota menjalankan Silence Day sehari saja, rasanya Indonesia akan lebih sejuk. Polusi udara dan polusi pikiran akan membuat bangsa ini lebih sehat. Toh, kita sudah lihat, orang-orang yang bersuara negatif ternyata “penjahat” pula. Dulu kita pikir mereka hebat, pemberani, kritis, dan jujur. Ternyata mereka menyimpan agenda-agenda terselubung. Menyerang untuk bertahan.

 Banyak persoalan yang mereka sembunyikan. Begitu dibuka, marahnya minta ampun. Bahkan bisa memerkarakan orang lain. Aura-aura negatif ini sudah terlalu banyak ditabur dan memerangkap banyak orang. Kita pikir itu demokrasi, padahal democrazy. Wartawan saja bisa terkecoh karena mereka pandai membuat “framing”. Pandai menjerat tokoh-tokoh besar untuk meng-endorse langkah- langkah itu.

 Kalau manusia kota berhenti berbicara, berhenti menaburkan aura-aura negatif, manusia introspektif akan terbentuk. Seperti kata Deepak Chopra. “Alam semesta saling berinteraksi, pikiranmu adalah pikiran alam semesta, energimu adalah cerminan dan energi alam semesta”. Alam semesta adalah representasi dari pikir manusia yang tinggal di dalamnya, yang berinteraksi dengannya.

 Jadi, orang Jakarta, seperti juga Surabaya, Semarang, Solo, Yogya, Bandung, dan Serang, dan kota-kota besar lainnya perlu membudayakan Silence Day cukup sehari saja setahun untuk menciptakan kerukunan dan kebahagiaan. Semua berhenti, kecuali suara azan, lonceng gereja, atau panggilan memuja Allah. Siapa mau memulainya?

Rhenald Kasali ; 
Ketua Program MM UI
SINDO, 14 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Nyepi dan Sepi dari Korupsi


 Pada Nyepi tahun ini, yang jatuh pada hari Selasa (12/3), umat Hindu memasuki Tahun Baru Saka 1935. Namun, Nyepi bukan sekadar pergantian tahun Saka, tapi juga hari raya yang disucikan, khususnya bagi hampir tiga juta penganut Hindu Bali dan di berbagai kawasan di Tanah Air.

 Ada beberapa ritual dalam menyambut Nyepi. Beberapa hari sebelum Nyepi digelar ritual Melasti, yakni menyucikan arca serta simbol-simbol agama Hindu Dharma guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Ritual ini dimaksudkan untuk menyucikan seluruh isi dunia dan khususnya untuk mengambil Amerta atau air suci kehidupan dari laut dan sumber air lainnya. Lalu sehari sebelum Nyepi digelar ritual Tawur Kesanga, terdiri atas upacara Bhuta Yadnya dan Ngrupuk.

 Bhuta Yadnya adalah ritual memberi persembahan pada Sang Bhuta Kala agar tidak mengganggu umat manusia. Dalam ritual ini umat Hindu membuat ogoh-ogohatau patung raksasa dari bambu yang merupakan simbol roh jahat di sekitar kita sehingga perlu disingkirkan. Cara penyingkiran adalah dengan ritual ngrupuk yakni mengarak ogoh-ogoh lalu membakarnya.

 Dengan demikian, roh jahat bisa diusir dan tidak jadi menguasai dunia. Nah, jika kita hendak mencari relevansi pesan suci Nyepi dengan masalah di negeri ini, tentu saja ada. Misalnya jika kita bicara tentang roh jahat atau kejahatan terbesar yang paling menjadi masalah bagi kita harihari ini, jelas bisa kita lihat pada maraknya praktik korupsi di sini.

 Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD menyebut, korupsilah masalah terbesar bangsa kita saat ini. Memang, bila kita bicara korupsi dan kaitkan dengan agama, kita menjadi malu. Sungguh menyayat hati manakala perintah Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa agar tidak mencuri, mengambil milik orang lain, atau korupsi—seperti tertulis di Kitab Suci semua agama—kini seperti tak punya pengaruh lagi.

 Buktinya, para koruptor baru justru terus bermunculan. Padahal di negara-negara sekuler, bahkan mayoritas warganya tidak peduli pada agama, seperti Denmark, korupsinya justru nihil. Apalagi, jika kita membincangkan korupsi di Departemen Agama yang konon justru menjadi sarang korupsi, jelas tambah malu hati ini. Sayang, justru mungkin kita sudah kehilangan hati alias sudah mati rasa, sehingga korupsi seolah sudah sulit dihentikan.

Kemunafikan

 Kenyataan korupsi yang kian marak ini jelas bisa membuat sebagian dari kita apatis. Mungkin benar tudingan budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis (almarhum), betapa munafiknya bangsa ini. Pencucian uang hasil korupsi lewat tindakan ritual keagamaan, seperti pernah dibeber Profesor Komaruddin Hidayat, jelas merupakan bentuk kemunafikan.

 Pelaksanaan ritual keagamaan idealnya membuahkan perilaku yang terpuji, bukan perilaku tidak terpuji seperti korupsi. Sayangnya, ritual keagamaan yang terjadi tidak menghasilkan buah perubahan hidup secara konkret. Banyak yang melakukannya hanya untuk mencari pujian dari orang lain sehingga citranya terdongkrak serta korupsi yang dilakukan jadi tidak ketahuan.

 Padahal kita tidak bisa berpura- pura, apalagi di hadapan Sang Pencipta yang sudah pasti amat membenci kepura-puraan. Segala topeng yang coba kita pasang tidak akan bisa menutupi segala perilaku yang tak terpuji. Sebagaimana arti kata korupsi dari bahasa Latin “corrumpere” yang berarti merusak atau membusukkan, maka jika tidak hati-hati, kita semua, tak terkecuali tokoh agama atau institusi agama, juga bisa dibusukkan oleh uang haram hasil korupsi.

 Teten Masduki, aktivis antikorupsi kawakan, pernah berkisah, betapa dia tak habis mengerti dengan beberapa tokoh agama dan pengikutnya yang justru membela mati-matian tersangka korupsi di pengadilan, padahal korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa. Korupsi memang luar biasa jahat karena jelas menyakiti dan menganiaya banyak pihak, khususnya kaum miskin.

 Dengan uang negara yang terus dirampok dan masuk kantong pribadi, kesempatan menjadi hilang bagi anak- anak miskin yang menderita gizi buruk untuk mendapatkan asupan gizi cukup. Akibat dirampok koruptor, banyak anak miskin tidak bisa masuk ke perguruan tinggi yang biayanya kian mahal.

 Jalan-jalan tambah rusak, karena anggaran pembangunannya sudah disunat dan dibelikan material yang murah sehingga jalan menjadi cepat rusak, berlubang, dan rawan kecelakaan. Ada rangkaian dampak buruk dari tindakan para koruptor sehingga para koruptor sebenarnya harus dihukum seberat-beratnya.

Agama dan Hukum

 Namun bila kita mengaitkan agama dan korupsi, kita harus hati-hati. Jangan sampai kesimpulan akhirnya menyalahkan agama, untuk tindakan korupsi ini. Karena untuk mengatasi korupsi, memang bukan tanggung jawab agama saja. Penegakan hukum, seperti penguatan KPK agar para koruptor dihukum seberat-beratnya, merupakan solusi utama.

 Maka KPK, yang menjadi tumpuan harapan terakhir, harus terus mendapat dukungan. Apalagi kabarnya sedang terjadi serangan balik dari para koruptor yang bekerja dengan mafia hukum di tahun politik kali ini (2013), agar KPK lemah menjelang 2014 mendatang. Dengan demikian, mereka yang merampok uang negara bisa terus berpesta-pora di atas kebangkrutan negara dan penderitaan rakyat, khususnya wong cilik.

 Jadi dalam upaya mengatasi korupsi, upaya ini bukan tanggung jawab agama saja. Agama hanya berperan sebagai “early warning sistem“ agar orang jangan korupsi. Tapi bila orang sudah melakukan tindak pidana korupsi, hukum positif kita yang harus bertindak tegas. Jadi kunci utamanya tetap pada penegakan hukum. Bagaimanapun, kita tidak boleh apatis atau putus asa.

 Gerakan masyarakat sipil untuk antikorupsi jelas perlu terus didorong, terlebih di tahun politik, yang jelas akan diwarnai banyak politik uang dan korupsi. Umat Hindu, meski minoritas, perlu menggelar sinergi dengan semua umat beragama lain.

 Sinergi ini perlu digalakkan agar kelak negeri ini sungguh bersih dari korupsi. Mari, Nyepi tahun ini kita jadikan momentum untuk menyepi, membersihkan diri dan berani mengalahkan roh jahat serta godaan untuk korupsi sehingga Indonesia menjadi lebih baik.

Made Ayu Nita Trisna Dewi  ;  
Alumnus Program Master Psikologi Agama National Chengchi University, Taipei
SINDO, 12 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Nyepi Menuju Pribadi Dharma


  ADA keunikan di kalangan umat Hindu dalam merayakan hari rayanya. Umat lain merayakan hari raya penuh dengan keramaian dan kegembiraan. Namun, umat Hindu merayakannya dengan penuh keheningan. Atau yang biasa disebut Nyepi.

Ada empat hal yang mereka lakukan selama Nyepi berlangsung. Empat hal yang juga disebut Catur Berata itu meliputi Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Masing-masing memiliki makna yang mendalam.

Amati Karya diartikan tidak melakukan kegiatan apa pun. Lalu, Amati Geni diwujudkan dengan tidak adanya penerangan di sekelilingnya. Suasana dipastikan alami tanpa ada sinar api ataupun listrik. Selanjutnya, Amati Lelungan yang berarti tidak bepergian. Mereka hanya berdiam diri sambil merenungkan semua tindakan yang sudah dilakukan. Terakhir, Amati Lelanguan, yakni tidak adanya hiburan sama sekali. Hanya suara alam dan sekitarnya yang mereka dengar.

Empat hal itu membuat suasana tenang. Mereka tidak terusik peristiwa di sekelilingnya. Konsentrasi hanya tertuju pada perenungan pribadi dan kehidupannya. Lalu, melakukan koreksi sambil menilai pelaksanaan trikarya dalam ajaran Hindu.

Trikarya merupakan tiga hal yang ditekankan dalam Hindu. Yakni, Kayukan atau perbuatan, Wacika yang berarti perkataan, serta Manacika yang bermakna pikiran. Tiga hal itu merupakan liku-liku yang mengelilingi manusia. Bisa jadi, tersesatnya manusia bisa berawal dari pelaksanaan trikarya yang tidak baik.

Setelah merenungi dan mengevaluasi pelaksanaan tiga hal itu, mereka diminta mempersiapkan diri Trikarya Parisudha (trikarya yang suci) pada masa depan. Dengan begitu, keteladanan hidup akan tertata. Baik secara pribadi maupun dengan masyarakat lainnya.

Selain merenungkan trikarya, umat Hindu dituntut melakukan evaluasi diri tentang pendakian rohani yang telah dicapai. Di antaranya mengenai hakikat dan tujuan hidup di dunia, sehingga menjadi manusia yang berarti dan membawa manfaat bagi sekelilingnya.

Hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan baik. Sebab, suasana selama Catur Berata berlangsung membantu perenungan bisa berjalan baik. Pikiran terkonsentrasi pada semua aspek perilaku hidup yang bisa dijalani. Hasilnya pun luar biasa, setiap pribadi merasakan arti hidup yang sebenarnya. Lalu, membikin langkah yang harus dilakukan untuk menyempurnakan hidup bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Namun, persoalannya, esensi ajaran itu sering tidak maksimal. Apalagi, tantangan umat semakin kompleks. Tidak hanya dari dalam diri, lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Wajar jika akhirnya ritual yang dijalani umat saat Nyepi berlangsung tidak berpengaruh pada kepriadiannya.

Ibadah dan kekhusyukan selama Nyepi hanya menjadi seremoni atau rutinitas setiap tahun. Proses dan tahap dilaksanakan seluruh umat dengan penuh keyakinan, tapi tidak bermakna secara mendalam. Karena itu, perilaku tetap sama dan kesalahan masa lalu masih terulang. Patut disayangkan.

Nyepi tahun ini merupakan tantangan semua umat. Esensi ibadah harus lebih ditekankan dan bukan sekadar rutinitas. Pelaksanaan ibadah perlu ditambah. Salah satunya dengan puasa. Baik puasa tidak makan dan minum selama 24 jam. Atau, hanya puasa ringan, yakni memakan nasi putih dan air kelapa gading muda. Ibadah tersebut secara naluri memberikan pembelajaran hati kepada umat.

Selain ibadah ringan, tanggung jawab menjadi elemen terpenting yang harus dijunjung tinggi. Melaksanakan tanggung jawab sangat berat. Perenungan selama Nyepi, lalu Trikarya Parisudha, harus dilaksanakan baik. Jika itu tidak terlaksana, tanggung jawab manusia langsung tertuju pada Sang Pencipta.

Dengan begitu, Nyepi akan menjadi momen bagi umat Hindu untuk menjadi yang lebih baik. Sebab, saat itu umat merenungi semua kesalahan dan kekurangan. Kemudian, berniat memperbaiki dengan tanggung jawab yang tinggi. Secara otomatis, pribadi umat akan semakin mengerti hakikat kehidupan di dunia. Pada waktunya nanti, umat tertuju pada pribadi yang dharma dan menjauhi sifat-sifat adharma.

Sangat jarang umat memaknai Nyepi sebagai tonggak penyadaran dharma. Lebih banyak sekadar perayaan dengan penuh kekeluargaan tanpa mengedepankan esensi ibadah. Sudah seharusnya kebiasaan yang terjadi tahun ke tahun itu diubah. Menjadikan Nyepi dengan motivasi menjadi pribadi yang dharma sesuai dengan ajaran agama.

Semua pasti menginginkan terwujudnya tiga hal konsep masyarakat. Yaitu, masyarakat Satyam yang berarti kesungguhan dalam menerapkan aturan yang benar. Lalu, Sivam yang berarti ketulusan yang mengutamakan kesucian. Serta, Siwam yang bermakna keharmonisan, keindahan, serta keseimbangan antara unsur fisik dan nonfisik.

Tiga hal itu sangat mudah dicapai. Syaratnya, ada kemauan dan ketekunan dari pribadi umat dalam menjalankan ibadah. Sangat diyakini, jika esensi ibadah Nyepi terlaksana dengan baik dan penuh tanggung jawab, tiga konsep masyarakat itu akan terwujud. Dampak nyata dirasakan umat di dunia, kebahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian.

Negeri ini butuh konsep itu. Umat Hindu di Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk mewujudkannya. Artinya, ketekunan melaksanakan ibadah pada momen Nyepi menjadi aspek penting untuk mewujudkan kedamaian serta kebahagiaan di masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia.

Sudah saatnya umat bangkit bersama. Menjunjung tinggi ajaran agama, melaksanakan, untuk mencapai pribadi yang dharma. Dari pribadi dharma, terwujud kehidupan sosial yang baik untuk mewujudkan konsep Satyam, Sivam, dan Siwam.

Hindu bukan sekadar agama yang membawa kedamaian untuk umatnya. Melainkan, agama yang mampu mewujudkan kedamaian untuk semua manusia. Sebab, Hindu bukan agama egois yang menganggap kebahagiaan untuk kelompok tertentu, tapi lebih pada seluruh manusia di dunia.

I Wayan Dendra  ;  
Umat Hindu, Anggota DPRD Sidoarjo dari Partai Hanura
JAWA POS, 12 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Nyepi dan Environmentalisme Hindu


 Umat Hindu merayakan Nyepi, 12 April ini. Pada Hari Raya Nyepi, suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata, penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

 Secara sekilas, filosofi Nyepi terlihat seperti ajaran yang sekadar mengajak manusia mengambil jeda sejenak dari dunia atau bahkan menganggap dunia sebagai buruk.

 Padahal, jika ditelaah, ajaran Nyepi sejatinya punya makna yang luar biasa konkret lagi positif bagi   kehidupan duniawi kita; yaitu ia mampu mencetuskan environmentalisme Hindu yang bisa bermanfaat bagi pelestarian lingkungan di tengah geliat dahsyat ekonomi industri yang tinggi karbon.

 Dalam konteks penggunaan energi, hasrat ekonomi industri yang rakus melahap energi dan gemar melepaskan karbon lewat cerobong pabrik itu memang sangat berbahaya.

 Bayangkan saja, data National Geographic (2011) menunjukkan penggunaan bahan bakar minyak tinggi karbon telah melepaskan 16.000 kilometer kubik karbon dioksida ke atmosfer per tahun! Karbon inilah yang lalu menumpuk sebagai selubung di atmosfer sehingga alih-alih membiarkan panas terlepas ke udara, selubung itu justru memantulkan panas kembali ke Bumi dan menyebabkan pemanasan global.

 Pada titik inilah, semangat Nyepi yang mematikan semua aktivitas selama satu hari penuh bisa berujung pada penekanan emisi karbon. Artinya, salah satu esensi Nyepi adalah upaya merawat alam supaya lebih seimbang dan terpelihara. Singkat kata, spirit Nyepi sekaligus menjadi ilham deras bagi munculnya environmentalisme Hindu.

Chipko dan Gandhiisme

 Ruh Nyepi yang ramah lingkungan memang menginspirasi gerakan-gerakan besar bercorak Hindu yang bertujuan melestarikan alam. Setidaknya ada dua gerakan terpenting semacam itu. Pertama, gerakan Chipko.

 Memiliki arti “merangkul”, Chipko adalah sebuah gerakan yang berdiri tahun 1913 dengan tujuan melindungi tanah-tanah hutan (Tucker dan Grim, Agama, Filsafat, dan Lingkungan Hidup, Kanisius, 2003:147).

 Setelah sempat vakum, gerakan ini dihidupkan kembali pada 1977 oleh sebuah kelompok perempuan di daerah Himalaya yang mengikat benang-benang suci dan membentuk rantai mengelilingi pohon-pohon—persis seperti gerakan memeluk—supaya tidak terkena aksi penebangan besar-besaran oleh perusahaan penambangan.

 Kaum perempuan yang tinggal di daerah-daerah berhutan selama beberapa milenium memang memiliki ketergantungan hidup kepada pohon. Hutan menyediakan makanan ternak, pupuk, makanan, air, dan bahan bakar. Oleh karena itu, penebangan hutan mengganggu keseimbangan ekologis dan menyebabkan kerusakan besar di pelbagai belahan India.

 Kedua, Gandhiisme. Berpijak pada ajaran tanpa kekerasan (ahimsa) dan tanpa kepemilikan (aparigraha), Gandhi tegas mengampanyekan pentingnya bagi perekonomian India untuk membuat desa-desa mandiri yang giat melakukan swasembada kebutuhan demi meniadakan impor barang (Gandhi, The Village Reconstruction, 1966:43).

 Menurut Gandhi, ekonomi industri yang rakus energi dan gemar berpolusi pasti akan melahirkan kompetisi, keserakahan, dan eksploitasi terhadap desa-desa. Dengan demikian, industrialisasi cuma akan melahirkan keinginan tak kunjung henti dari manusia yang hanya bisa dipuaskan oleh aktivitas buas mesin industri yang, lagi-lagi, mengepulkan karbon hitam perusak lingkungan.

 Oleh karena itu, melakukan swasembada di tingkat desa, khususnya makanan dan pakaian, akan meminimalkan kebutuhan manusia sekaligus menekan keperluan akan sarana-sarana yang digunakan untuk menghasilkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Ini bisa mengerem laju industri dan tingkat perusakan lingkungan akibat ekonomi modern yang mendewakan teknologi pengeksploitasi alam.

Kearifan Lingkungan

 Dari sini, kita bisa lihat bagaimana ajaran Nyepi mampu menjadi aset kultural andal bagi umat manusia untuk menghalau bahaya lingkungan, yang salah satunya disebabkan pemanasan global akibat limbah karbon dari kegiatan ekonomi industri modern berbasiskan teknologi.

 Gerakan Chipko dan swasembada ajaran Gandhi adalah bukti betapa semangat Nyepi mampu mewariskan sejumlah kearifan lingkungan luar biasa yang sangat relevan dan aktual bagi kehidupan kontemporer.

 Pertama, gerakan melindungi pohon ala Chipko kini digalakkan secara intens oleh masyarakat global. Ini karena komunitas dunia kini mulai menyadari betapa pentingnya pohon sebagai penyerap emisi karbon.

 Lebih jauh lagi, karenanya, perekonomian mondial kini mengenal konsep perdagangan karbon (carbon trading), di mana negara yang masih memiliki banyak pohon penyerap karbon bisa menjual potensi serapan mereka itu—berupa janji tidak menebang pohon—dengan harga mahal kepada negara industri yang masih ingin mengepulkan emisi karbon.

 Kedua, gerakan mengurangi impor ala Gandhiisme juga mulai diadopsi banyak warga dunia. Munculnya slogan-slogan berbau proteksionisme seperti Buy America (beli produk-produk buatan Amerika sendiri) yang didengung-dengungkan Presiden Obama adalah contoh telak betapa ajaran Gandhi yang diilhami spirit Nyepi telah mampu merambah ke belahan dunia Barat—bahkan kiblatnya langsung, AS—sana.

 Terbukti ajaran mengurangi impor mampu menumbuhkan kemandirian bangsa, memperkuat perekonomian lokal di tengah krisis finansial global, sekaligus mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

 Akhirulkalam, Hari Raya Nyepi seyogianya jangan ditafsirkan sebagai laku spiritual semata, melainkan sebagai bentuk ibadah dari salah satu agama tertua di dunia yang ternyata memiliki dampak nyata bagi kehidupan umat manusia; baik dari segi perekonomian maupun lingkungan. Selamat Hari Raya Nyepi!

Satrio Wahono  ;  
Magister Filsafat UI dan Pengajar FE Universitas Pancasila
SINAR HARAPAN, 11 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Nyepi sebagai Introspeksi


  HARI Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935 yang dirayakan umat Hindu se-Indonesia tahun ini jatuh pada Selasa, 12 Maret 2013. Rangkaian perayaan meliputi melasti, tawur agung, dan catur brata penyepian merupakan momen reflektif bagi umat Hindu dalam menjaga keseimbangan alam dan diri sendiri sehingga tercipta kehidupan yang mendamaikan jiwa.

Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan di dunia dapat dicapai dengan melaksanakan ajaran Tri Hita Karana. Ajaran itu bermakna tiga hubungan harmonis, menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan Sang Pencipta, antara manusia dan lingkungan/ alam semesta, serta antara manusia satu dan lainnya.

Kealpaan manusia menjaga harmonisasi dengan alam, seperti penggundulan hutan atau menghilangkan kawasan hijau dapat memicu terjadinya banjir atau tanah longsor. Bencana alam yang tidak kita kehendaki itu, acap menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda tidak sedikit.

Demikian juga bila kita abai menjaga harmonisasi hubungan antarmanusia maka yang terjadi adalah kondisi seperti saat ini yang disesaki oleh gejolak dalam berbagai bidang, seperti kegaduhan situasi politik menjelang Pemilu 2014, pertengkaran dan perang opini antarpartai dan antarpolitikus tiap saat kita saksikan lewat berbagai media massa. Juga yang tidak kalah menyedihkan begitu banyak konflik kepentingan yang terjadi pada masyarakat yang kemudian berujung pada kekerasan, kekerasan antarkelompok,bahkan akhir-akhir ini begitu banyak terjadi kekerasan terhadap anak.

Salah satu makna pelaksanaan Hari Raya Nyepi, yakni momentum untuk introspeksi, saya kira  sangat relevan bila kita kaitkan dengan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini. Introspeksi dapat dikatakan sebagai perjalanan ke dalam diri untuk mengetahui secara jernih dan jujur semua pikiran, perkataan, dan perbuatan yang kita lakukan selama ini.

Sudahkah semua itu memenuhi berbagai norma yang sepatutnya kita pedomani, seperti norma agama, kepatutan dan kesantunan, serta norma hukum? Introspeksi dapat kita ibaratkan bercermin dengan jujur dan cerdas dan upaya itu bukan perkara mudah. Pasalnya, menemukan kekurangan, kelemahan, dan kesalahan diri, butuh sikap arif dan bijak serta tingkat spiritual yang memadai.

Tanpa kearifan maka yang hadir malah ketidakjujuran sebagai pembelaan diri atau berbagai alasan pembenar dan pemaaf bagi diri sendiri. Pada akhirnya kita tidak akan pernah dapat menemukan langkah tepat untuk memperbaiki diri, sebaliknya membiarkan untuk terus terjebak pada kesalahan dan kekeliruan  berkepanjangan.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi mewajibkan umat Hindu melaksanakan catur brata, yang bisa diartikan empat pantangan selama 24 jam, yakni tidak menyalakan api atau penerangan (amati geni), tidak melakukan aktivitas kerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak diperkenankan bersenang-senang/ menikmati hiburan (amati lelanguan). Melaksanakan brata penyepian ini dimaksudkan untuk memberikan ruang dan waktu yang berkualitas utama guna melakukan perenungan dan intorspeksi diri secara baik serta sekaligus sebagai sarana kontemplasi, refleksi dan merumuskan proyeksi serta  prioritas yang hendak diwujudkan kedepan.

Keunggulan Rohani

Musuh dalam diri yang acap menggoda dan berusaha menguasai hati dan pikiran kita, sebenarnya dapat kita taklukkan atau kendalikan, tidak saja dengan kecerdasan intelektual tetapi juga dengan meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Musuh itu antara lain sifat tamak, sombong, rasa ingin selalu marah, iri hati, selalu berprasangka buruk serta mau menang sendiri.

Terkait dengan rutinitas keseharian kita yang dipenuhi ingar-bingar keramaian, adakalanya butuh suasana sepi dan sunyi untuk melihat seberkas cahaya terang dalam diri yang akan membasuh dan membersihkan hati kita sehingga mampu menangkal berbagai godaan yang dapat menjerumuskan ke jurang derita panjang.  Hal ini selaras dengan ucapan Adi Sankarcarya, filsuf besar India pada abad ke-8, yakni, sepi adalah pintu pertama menuju keunggulan rohani.

Tentu saja Nyepi hanyalah momentum untuk introspeksi karena sesungguhnya sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, kita wajib memiliki kesadaran untuk terus-menerus mencerahkan batin. Upaya itu bertujuan supaya langkah kita pada esok hari lebih baik dibandingkan dengan hari ini.

Memperbaiki kualitas diri, akan meningkatkan nilai-nilai untuk saling menghargai dan menghormati dalam kesetaraan, kebersamaan, dan keberagaman yang mendamaikan dan meningkatkan nilai luhur lainnya.  Manakala bisa melakukan dengan baik, niscaya mengantarkan kita pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih damai dan lebih elok.  Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935. Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu

Putu Adhi Sutrisna  ;  
Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
Provinsi Jawa Tengah
SUARA MERDEKA, 11 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Nyepi dan Kebudayaan Luhur

 Perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada Selasa, Sasih Kadasa, Tahun Baru Saka 1935 bertepatan dengan tanggal 12 Maret 2013 Masehi. Tema yang diusung Kanthi Luhuring Budi, Umat Hindu Memetri Budaya Ngudi Raharjaning Praja, yang berarti "Dengan Keluhuran Budi, Umat Hindu Melestarikan Kebudayaan Luhur Guna Pencapaian Kesejahteraan Bangsa dan Negara". Pada puncak perayaan Nyepi ini umat Hindu Indonesia khususnya di daerah "Pulau Dewata" Bali melakukan ritual Brata Penyepian yang dideskripsikan dengan empat larangan beraktivitas. Pertama, amati geni (tidak menyalakan api). Kedua, amati karya (tidak bekerja). Ketiga, amati lelungan (tidak bepergian). Keempat, amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan).

 Secara etimologis asal kata 'nyepi' berasal dari kata 'sepi' yang memiliki padanan kata sunyi, senyap, dan hening. Berdasar kata tersebut, kegiatan Nyepi dengan ritual Brata Penyepian ini menekankan pada prinsip keseimbangan. Yakni, suatu proses mengembalikan (dikembalikan) alam beserta isinya (microcosmos dan macrocosmos) ke dalam suatu keadaan titik/masa, sepi, (sunyi, hening, dan senyap). Tetapi, bukan berarti semua itu tanpa isi, rasa dan makna, ke"nihil"an atau "nol" pada tatanan sosial-kemasyarakatan yang hidup dan bernilai suci serta merupakan suatu tingkatan tertinggi dari sebuah ukuran manusia yang taat kepada ajaran suci Hindu.

 Ritual Brata Penyepian ini juga merupakan suatu kegiatan pengekangan terhadap kecenderungan hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan (instrospeksi) dengan disertai suatu keikhlasan dan penyerahan total kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam mencapai suatu keadaan ketenangan dan kedamaian serta kesucian lahir dan batin. Manusia sebagai makhluk ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa, wajib berdoa untuk menyucikan alam beserta isinya, yakni microcosmos (alam manusia) dan macrocosmos (alam semesta).

 Umat Hindu diwajibkan untuk menjalankan upacara sembahyang keagamaan. Pertama, berupa tapa (latihan ketahanan menderita). Kedua, brata (mengekang nafsu). Ketiga, yoga (menghubungkan jiwa dengan Tuhan). Keempat, samadi (penyatuan dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa) untuk meraih kesucian lahir batin.

 Praktis saja bandar udara, tempat-tempat publik pada tutup terkecuali rumah sakit dan klinik. Objek-objek wisata di kawasan Pulau Dewata pun diistirahatkan untuk sementara waktu selama perayaan Nyepi, seperti Batubulan, Bedugul, Goa Gajah, Jimbaran, , Mangrove, Nusa Lembongan, Pura Besakih, Tampaksiring, Tanah Lot, Tanjung Benoa, Tegalalang, Ubud dan Uluwatu. Para pecalang (polisi adat) melakukan penjagaan dan pemantauan ke seluruh daerah di Bali untuk memastikan tidak ada orang yang keluar dari tempat penyepian (pura atau rumah). Bilamana ada orang yang melanggar dan tertangkap, maka akan diberi sanksi adat.

Jika kita menangkap makna yang terkandung dari pesan-pesan Nyepi di atas, dan mengaplikasikannya dalam ranah kehidupan keseharian baik individu, masyarakat, bangsa maupun negara, maka banyak sekali faedah yang didapat yang pada intinya berupa pesan perdamaian dan toleransi di antara makhluk Tuhan dengan tidak memandang suku, agama dan ras antar golongan (SARA).

 Menurut Emile Durkheim (1976), agama adalah suatu sistem kepercayaan beserta praktiknya, berkenaan dengan hal-hal yang sakral yang menyatukan pengikutnya dalam suatu komunitas moral. Agama merupakan bagian yang sangat mendalam dari kepribadian (privacy), karena agama selalu bersangkutan dengan kepekaan emosional. Agama merupakan hal yang sensitif dan sering menghambat proses integrasi sosial, terutama pada masyarakat majemuk yang memiliki bermacam-macam agama dengan doktrin yang berbeda-beda. Agama memiliki ajaran yang mengatur kehidupan bersama tanpa memandang ras, pangkat, derajat, jenis kelamin, dan unsur-unsur pembeda lainnya. Agama menganjurkan suatu kerja sama antar-pemeluk agama.

 Di tengah carut marutnya tatanan bermasyarakat dan bernegara dewasa ini, yang dulu di mancanegara bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kini telah mengalami degradasi secara drastis. Seakan-akan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pemarah, dan tidak cinta akan kerukunan dan kedamaian, setiap pemeluk agama saling serang dan terjadi kecurigaan. Sungguh ini merupakan hal yang sangat ironis. Sejarah peradaban bangsa Indonesia mencatat di era kejayaan kerajaan Nusantara, bangsa ini telah mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang rukun. Hal ini tersurat dalam kitab Sutasoma dengan semboyan "Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa", yang bermakna meskipun berbeda-beda, namun satu jua tak ada hukum yang mendua. Ini merupakan fakta sejarah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk serta cinta perdamaian.

 Kiranya bangsa Indonesia perlu meneladani ajaran Hindu yang berkenaan dengan kepemimpinan dan tata negara. Untuk mendalami tentang kepemimpinan dan konsep negara menurut agama Hindu ini kita bisa merujuk buku karya Oka Mahendra berjudul "Ajaran Hindu tentang Kepemimpinan, Konsep Negara, dan Wiwaha" terbitan Pustaka Manikgeni. Buku ini memaparkan betapa agungnya ajaran Hindu berkenaan dengan kepemimpinan secara luas.

 Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai wadah bagi para pemuka agama Hindu Indonesia dan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) sebagai perhimpunan keluarga besar mahasiswa Hindu Indonesia kiranya mesti menyampaikan rekomendasi melalui moment perayaan Nyepi sebagai tawaran solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia dengan cara melestarikan kebudayaan luhur guna pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara.
 Selamat menunaikan Brata Penyepian dan Tahun Baru Saka 1935

Ade Sunarya  ;  
Budayawan
SUARA KARYA, 11 Maret 2013

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Promosi Balian Dan Testemoni Pasien "Menyesatkan"


Pada umunya orang yang Masiet Peteng, berkelahi dengan menggunakan black magic (Ilmu Hitam) adalah Balian Pangiwa yang dikuasi oleh tujuh kegelapan, yaitu: peteng pitu, tujuh hal yang menyebabkan pikiran gelap; kecantikan, kekayaan, kepandaian, kebangsawanan, kemudaan, minuman keras, kebranian (yang berlebihan). Black magic atau ilmu hitam sering disebut dengan pengeléakan, karena didorong oleh tujuh kegelapan, pada umumnya mereka lebih cepat emosi menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Ketika mereka bertemu pada orang yang memiliki tingkat emosional yang sama, dan sama-sama berprofesi sebagai Balian, maka terjadilah siat peteng. Bila dua léak bermusuhan kemudian bertemu, akan terjadi pertempuran. Pada léak yang tingkatannya tinggi, maka yang terlihat adalah endihan cahayanya akan lebih besar atau sinar seperti meteor. Dan ilmunya yang lebih rendah maka sinarnya seperti kunang-kunang yang saling menyambar diudara. Kadang-kadang pertempuran ini berlangsung beberapa saat, kemudian keduanya menghilang, dan sinar tersebut akan meluncur kerumah Balian yang kalah. Yang kalah akan merasakan tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, dalam posisi sedang tidur dirumah atau berada di depan sanggah cukcuk. Besok paginya, léak yang kalah ini akan muntah darah dan kemudian mati mendadak.

Dalam Kamus Bahasa Bali (Tim, 1999:521,645, 397). Menguraikan bahwa; Siat, perang; rames, perang hebat; masiat berperang, berkelahi; pasiat perang; wayange rame pesan, perang wayang itu amat ramai (hebat); siatang adu berperang; siatanga diadunya berperang, siatin, perangi; siatina, diperanginya; nyiating mengadu; nyiatin memerangi; pasiatan, peperangan; kasiatang diadu berperang; kasiatin, diperangi. Peteng, malam; mameteng, dalam keadaan gelap; peteng pitu, tujuh hal yang menyebabkan pikiran gelap, kecantikan, kekayaan, kepandaian, kebangsawanan, kemudaan, minuman keras, kebranian; kena pepeteng kena kegelapan waktu malam karena perbuatan sihir. Léak, jadi-jadian dengan mempergunakan ilmu hitam; léakina, mengganggu dengan ilmu hitam hingga saki. 

Dalam Usada Bali dijelaskan (Nala, 2002:113,185) bahwa; bila dua léak bermusuhan kemudian bertemu, akan terjadi pertempuran. Pada léak yang tingkatannya tinggi, maka yang terlihat adalah endihan atau sinar seperti meteor atau kunang-kunang yang saling menyambar diudara. Kadang-kadang pertempuran ini berlangsung beberapa saat, tetapi kebanyakan hanya sesaat saja, kemudian keduanya menghilang. Yang kalah akan merasakan tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, pada hal dia sedang tidur atau berada di depan sanggah cukcuk. Besok paginya, léak yang kalah ini akan muntah darah dan kemudian mati mendadak. Lukanya dapat dilihat kalau mayatnya dimandikan dengan air kelapa gading. Tanpa air kelapa ini tubuh mayat akan tampak bersih tidak ada cacat luka. Tetapi léak yang telah luka dalam yang parah, kalau belum mati, dapat memohon kepada léak lawannya untuk menunda kematiannya hingga dia selesai mesangih, upacara potong gigi yang termasuk Manusa Yadnya. Itulah sebabnya orang yang menunda waktu mesangihnya, dicurigai sebagai korban kalah panga-léak-kan-nya dengan léak lain yang lebih sakti. Dia menunda kematiannya dengan mengulur waktu mesangihnya sampai pada ajalnya. Bila tidak demikian sesuai dengan perjanjian, begitu selesai masangih, dia langsung akan mati, akibat luka dalam yang dipendamnya selama ini. (Nala, 2002:113,185)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa; Léak membuat orang menjadi sakit, bukan dengan masuk ke dalam badan orang yang dituju, tetapi dengan cara menakut-nakuti, sehingga dia menjadi sakit, akibat ketakutan yang amat sangat. Bagi mereka yang berani, tidak pernah takut kepada apapun, orang yang selalu melaksanakan kebenaran, melakukan dharma agama dengan penuh ketekunan, tidak akan mempan oleh kesaktian leyak ini. Orang semacam ini dikatakan kebal terhadap léak. Malahan léak Pamoron yang mengubah wujudnva menjadi binatang, akan dilihat oleh orang biasa sesuai dengan wajah sebenarnya. Léak ini dikatakan léak matah. Léak yang mentah, tidak mampu menakuti orang, karena tidak dapat berubah wujud, yang dapat menakut-nakuti orang sehingga sakit. Penangkal léak yang paling utama adalah ingat kepada Hyang Widhi dan melakukan ajaran dharma agama dengan benar dan baik.

Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh orang yang mengambil profesi sebagai Dukun atau Balian Pangiwa. istilah dukun di Bali sering disebut Balian, Tapakan atau Jero Dasaran. Yang dimaksudkan dengan Balian ini adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang yang sakit. Kemampuan untuk menyembuhkan atau mengobati ini diperoleh dengan berbagai cara. Tidaklah seperti di dunia pengobatan modern, dokter atau para medik. Mereka adalah pengobat tradisional yang mendapatkan keahliannya berdasarkan atas tradisi, keturunan. taksu, pica atau dapat pula akibat belajar pada seorang yang telah menjadi Balian, dari berbagai cara lainnya. Pendidikan yang formal seperti dalam dunia kedokteran modern. Karcna itu ada beberapa Balian yang tidak mau disebut Balian alau Jero Dasaran. Mereka hanya mengaku sebagai orang yang menolong, bukan mengobati. Dia hanya mapitulung dan bukan matatambanan. Orang lainlah yang menyebut dia sebagai Balian atau dukun, bukan dirinya sendiri. Berdasarkan atas berbagai kriteria maka Balian di Bali dikelompokkan sebagai berikut : Berdasarkan tujuannya dikenal 2 macam Balian, yakni Balian Panengen dan Balian Pangiwa. Berdasarkan alas perolehan keahliannya, Balian terdiri alas 4 kelompok. yakni : 1). Balian Katakson, 2). Balian Kapican, 3). Balian Usada dan 4). Balian Campuran.

Balian Panengen adalah Balian yang tujuannya mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian ini sering pula disebut Balian Ngardi Ayu, dukun yang berbuat kebaikan. Dalam mitos rwa-bhineda. dua hal yang selalu bertentangan dalam satu kesatuan, kala tengen atau kanan berarti pihak yang baik dan lawannya, kiri atau kiwa berarti pihak yang jahat. Balian tipe ini pada umumnya bersifat ramah, terbuka, penuh wibawa dan suka menolong. Siapapun akan dilolongnya, tidak membedakan apakah dia orang baik atau jahal, orang miskin atau kaya, semua dilayani sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Balian Pangiwa, Balian ini sebenarnya dasar pengetahuannya hampir sama dengan Balian Panengen. Hanya sasaran yang dituju berbeda. Balian Pangiwa bertujuan bukan untuk menyembunkan orang yang sakit, tetapi membuat orang yang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit menjadi bertambah sakit, bahkan sampai meninggal. Orang yang dimusuhi oleh Balian Pangiwa akan menerima akibat berupa sakit yang dapat dibuat oleh Balian ini. Begitu pula terhadap musuh kila, dengan meminta pertolongan pada Balian Pangiwa musuh kita akan menderita sakit bahkan sampai mati, karena kesaktian aji wegig dari Balian ini. Itulah sebabnya Balian tipe ini sering disebut Balian Aji wegig, dukun yang menjalankan kekuatan membencanai orang lain atau berbuat jahil, usil terhadap orang lain. Balian jenis ini amat sukar dilacak. Pekerjaannya penuh rahasia, tertutup dan misteri. Tidak sembarang orang yang datang kepadanya dipenuhi keinginannya untuk membencanai musuh atau orang yang dibenci. Diselidiki dengan seksama disertai ketelitian yang tinggi akan maksud orang yang datang meminta tolong itu. Setelah yakin bahwa orang yang datang itu dapat dipercaya barulah diberikan apa yang diminta, membuat orang yang dimusuhi menjadi sakit. Sering pula Balian tipe ini mengganggu Balian Panengen pada waktu mengobati orang sakit, sehingga tidak sembuh-sembuh. Jahil dan usil merupakan sisi lain dari Balian Aji Wegig ini. Mendatangkan hujan pada waklu orang scdang mclakukan upacara, menahan hujan (nerang) pada waktu orang sedang bercocok tanam, serta menguji kesaktian dengan Balian lainnya adalah kegemaran dari Balian Pangiwa ini. Di samping itu Balian ini mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, terutama orang yang terkena aji wegignya sendiri atau dari orang lain. Jenis dukun inilah yang melakukan berbagai cara untuk membuat korbannya sakit dengan mempelajari ilmu pangeléakan, desti, papasang sasirep, bebahi dan lain-lainnya. Dalam melakukan aksinya Balian Pangiwa ini sering bertemu dan berkelahi secara magis dengan Balian Panengen. Pada umumnya Balian Pangiwa selalu kalah dengan Balian Panengen, karena Hyang Widhi selalu berpihak pada yang benar. Ajaran pangiwa dan panengen berasal dari satu sumber, tetapi pelaksanaannya yang berbeda karena didasari oleh tujuan yang berlainan. Yang satu bertujuan untuk membencanai orang dan yang satu bermaksud untuk menyembuhkan orang. 

Balian Katakson, balian jenis ini adalah Balian yang mendapat keahlian melalui tak Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk ke dalam diri seseorang mempengaruhi orang tersebut, baik cara berpikir, berbicara maupun tingkah lakunya. Karena kemasukan taksu inilah orang tersebul mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Itulah sebabnya dia dinamai Balian Katakson (ka + taksu + an), dukun yang kataksuan, kemasukan taksu (kasurupan). Dia berfungsi sebagai mediator, penghubung. Balian ini termasuk balian penengen, hanya untuk mengobati.

Balian Kapican, balian Kapican adalah orang yang mendapat benda bertuah yang dap dipergunakan untuk menyembuhkan orang yang sakit. Benda bertuah ini disebut pica. Pica ini dapat berupa keris kecil, batu permata, tulang, gigi besi atau logam lainnya, gigi kilap, serta benda lain yang bentuknya aneh. Ada malahan yang berupa binatang seperti kucing, burung, anjing atau binatang lainnya. Benda pica ini diperoleh biasanya melalui petunjuk dalam mimpi. Di dalam mimpinya dijelaskan tentang tempat benda tersebut dan khasiatnya untuk pengobatan. Kalau berupa binatang, maka dia akan datang sendiri atau dijemput disuatu tempat. Dengan mempergunakan benda-benda atau binatang pica ini dia mampu menyembuhkan orang yang sakit. Sejak itu mereka disebut Balian Kapican, dukun yang mendapat pica atau yang kapican (ka + pi + ca + an) oleh suatu kekuatan gaib.

Balian Usada, yang dimaksud dengan Balian Usada ini adalah seseorang yang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui aguru waktera, belaja pada seorang Balian yang telah mahir dalam ilmu pengobatan mampu belajar sendiri melalui lontar usada. Karena untuk menjadi balian tipe ini melalui proses belajar, maka orang Barat menyebut balian jenis ini dengai julukan dokter Bali. Kemampuan pengetahuan Balian jenis ini baik di bidang anatomi dan fisiologi maupun di bidang patologi. pharmakologi dan farmasi adalah amat mengagumkan mereka. Begitu pula dalam hal men-diagnosis, terapi dan prognosis suatu penyakit kebanyakan tepat. Dan kepustakaan para Balian Usada ini cukup memadai. 

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa; Masiet Peteng, yang disebut dengan black magic (Ilmu Hitam) dilakukan oleh Balian Pangiwa yang dikuasi oleh emosi negatif terkait dengan kehidupannya sehari-hari. Ketika mereka bertemu pada orang yang memiliki tingkat emosional yang sama, dan sama-sama berprofesi sebagai Balian, maka terjadilah siat peteng. Bila dua léak bermusuhan kemudian bertemu pada umumnya, matanya saling molotot, saling masebeng ini sebagai awal akan terjadi pertempuran. Pada léak yang ilmunya tinggi, cahayanya akan lebih besar seperti meteor dan yang ilmunya lebih rendah cahanya lebih kecil seperti kunang-kunang. Ini akan saling menyambar di udara, yang berlangsung hanya sesaat. Cahaya yang menang akan mengejar cahaya yang kalah sampai di atas rumahnya. Kemudian keduanya menghilang, yang kalah akan merasakan tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, dalam posisi sedang tidur dirumah atau berada di depan sanggah cukcuk. Besok paginya, léak yang kalah ini akan muntah darah dan kemudian mati mendadak, atau mati atas pengampunan dari Balian yang menang. (ww)

Penulis : Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd
Tanggal : 2012-08-05
(MAJALAH KEBUDAYAAN BALI TAKSU ISSN:834X)

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....

Ciri-Ciri Orang Bisa Ngeleyak "Berajah Cinging"


Dalam prakteknya di masyarakat ciri-ciri Pangeleyakan bersumber dari perilaku manusia, yang disebut dengan Balian Pangiwa dan Balian Panengen, seperti dijelaskan oleh Nala (2002:114). Balian panengen adalah Balian yang tujuannya untuk mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian Pangiwa bertujuan bukan untuk menyembuhkan orang sakit, tetapi membuat orang yang sehat menjadi sakit dan yang sakit menjadi bertambah sakit, bahkan sampai meninggal. Balian atau dukun jenis ini sangat sulit untuk dilacak, pekerjaannya sudah penuh rahasia, terlalu tertutup dan misteri. Tidak sembarang orang yang datang dapat dipenuhi keinginannya untuk membencanai musuh atau orang yang dibenci. Jadi dukun/balian inilah yang melakukan berbagai cara untuk membuat korbannya sakit dengan mempelajari ilmu pengeliyakan, desti, pepasangan, sasirep, bebahi dan lainnya. 

Pengeliyakan adalah sosok tubuh manusia yang tampak seperti bhuta atau binatang. Desti adalah suatu kekuatan gaib yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit. Biasanya mempergunakan benda-benda yang berasal dari orang yang akan dibencanai yang akan dikenai penyakit. Pepasangan adalah benda yang diisi kekuatan gaib atau magis, serta ditanam di dalam tahanh atau disembunyikan secara rahasia ditempat tertentu untuk membendanai seseorang. Benda tersebut dapat berupa tulang, taring binatang, gigi binatang, daun lontar yang telah dirajah, rambut kain yang telah diisi tulisan dan lainnya. Bebai atau Bebahi adalah penyakit yang dibuat dari raga janin dan Kanda Pat, (empat saudara yang dapat dikirim masuk kedalam tubuh seseorang yang ingin membencanai sehingga jatuh sakit. (Nala, 2002:177-186).

              Yang terdapat dalam lontar Aji Pengeliyakan milik Griya Sangket Karangasem salinan (I Nengah Widana,1995), dan terjemahan I Nyoman Neraka (2008). Lontar tersebut scara garis besarnya, menguraikan tentang: 1). Pasuryan Pangiwa, segala ilmu (pengeliyakan) dapat dicapai dengan terlebih dahulu memusatkan pikiran, beryoga. 2). Gni Sambawana, atau disebut juga pangwa sari. Ini (pengeleyakan) yang paling utama 3). Cambra Berag, ini sangat sakti, karena bersumber dari sebagain kecil Hyang Aji sarswati sebagai batasannya. 4). Rabut Sapetik, ini dapat digunakan membuat orang menjadi gagu semua yang bersuara. 5). Maduri Reges, ini merupakan leyak campuran dari beberapa agama; guna Makasar, guna Jawa, guna Bali, guna leyak putih dari Mekah. 6). Pangiwa Utamaning Dadi, supaya menjadi Butha Dengen (yang membuat bulu kuduk merinding). 7). Rerajahan ring Papetek (sabuk), untuk membersihkan diri, artinya tidak semua pangiwa itu negatif (lihat aksara IV. Dan V). 8). Panugrahan pangiwa, memohon panugrahan kepada Yang Nini Bhatari Gangga, untuk menghidupkan pngiwa yang ada ditengah mata. 9). Tata cara pengiwa untuk orang perempuan, untuk menggabungkan agar Bhtara Brahma, Wisnu dan Iswara berkumpul menjadi Bhatara Kala, agar kesaktiannya tidak terkalahkan. 10). Pengeliyakan Uwig, agar menjadi Bhuta Baliga (lihat aksara VIII dan IX). Pangiwa Swanda, ini adalah ratunya pangiwa. 12). Brahma Maya Murti, agar nampak seperti Hyang Brahma Murti, bertangan delapan ribu berbadan sembilan ribu, berkaki 1000 (alaksa), tangangan memamajang, dan memakai anting-anting bintang di langit. 13). Ni Calon Narang, dapat berubah wujud sampai seribu kali. 14). Rata Gni Sudha Mala, (tanpa penjelasan). 

Jadi seperti apa yang diuraiakan di atas, ternyata tidak ada ciri khusus yang menyatakan tentang pengeliyakan, karena ini bersifat rahasia dan harus dirahasiakan. Tetapi untuk megetahui, secara samar-samar dapat dipahami melalui cerita bali Kuno tentang: I Dongding, yang menceiterakan Balian Baik dan Balian Jahat.

Biasanya pada jaman Bali Kuna, ketika ingin menidurkan anak atau cucunya, diawali dengan cerita. Ceritanya seperti dibawah ini. 

I Dongding, adalah anak pertamanya Men Dongding. Dongding yang sudah berumur 10 tahun, dan ketika itu ibunya sedang hamil tua. Ayahnya adalah seorang petani. Ketika ayahnya sedang bekerja di sawah, maka Ibu Dongding perut mendadak sakit. Maka dipanggilah anaknya, yang bernama I Donding. ”Dongding-Dongding, mai ja malu, kesini sebentar”. Maka datanglah I Donding dekat ibunya, ibunya berkata; ”perut ibu sedang sakit tolong carikan ibu Balian untuk membantu kelahiran. Cari balian yang rumahnya beratap Ijuk adalah Balian Baik, dan jangan cari Balian yang rumahnya bertap Alang-Alang dia adalah balian Jahat. Sebab Balian tersebut rumahnya berdampingan, jangan sampai salah ya nak!, demikian ibunya menuyuruh. Maka I Donding datang kerumah Jero Balian, tetapi setalah sampai didepan rumah Balian ia lupa. Rumah atap Alang-alang apa Ijuk? Tetapi akhirnya dalam kebingungan I Donding memilih yang bertap alang-alang. Kemudian Donding mengetuk pintu, sdambil berkata: ”Jro Balian... Jro Balian....Jro Balian” Jro Balian menyapa, ”nyen to kauk-kauk?” siapa itu memanggil-magil. ”Tiang cucun Dadonge I Donding!”, ketika melihat wajah Nenek Renta Tua, yang berwajah Cinging, berpakian poleng hitam putih kumat. I Donding merasa dirinya salah mencari Balian, dan bulu kuduknya meriding. ”Men kenken cening tumben ngalih dadong mai? (kenapa kamu tumben kesini.) Demikian kata Jro Balian Nenek Renta tersebut, kemudian I Donding menjelaskan, ”Dadong orahina nulungin mementiange sedeng beling gede” (Dadong diseruh membatu melahirkan ibu saya). ”Ya... kalau begitu dimana rumahmu?. Disitu didekat bale Banjar, tiga rumah keutara. Nenek tidak tahu jaklannya, silahkan kamu menangkat ayam Nenek yang berwana merah, dan cabut bulunya sebagai petunjuk jalan. 

Ringkas cerita, setelah sampai dirumah dan kebetulan juga Bapaknya sudah datang dari sawah, maka I Dongding mengatakan sudah mencari Balian yang rumahnya beratap Alang-alang. Ibu dan Bapaknya kaget, ibunya berkata; ”bah... Donding-dongding.... sing buwungan suba meme jani mati. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, I Dongding disuruh menyapu bulu ayam sudah dtebarkan tadi, setelah itu mereka membagi tugas. Ibu-nya Donding bersembunyi dibwah ketungan, (tempat menumbuk padi. Ayah dan I Donding bersembunyi di Menten (Balu Utara), kemudian di pintu dapur dipasang talenenan (tempatt memotong daging) dan di Gebeh (tempat air) ditaruh ular. Kemudian dengan jalan yang tersiok-siok akhirnya ia datang kerumahnya Dongding, dan memanggil-mangil tidak ada yang menjawab. Akhirnya dia duduk di atas ketungunan, sambil mencari kutu dirambutnya. Setiap kutu yang diperoleh di pencat dan bersuara ”Klepit”, kemudian Ibu Donding duduk dibawah ketungan, dia tertawa. Akhirnya dia ketahuan oleh Jro Balian yang Cingimg. ”Ye... memen Dongding dini mengkeb, mai-mai tulunga melahirkan”, (Hai....Ibu Dongding disini ngumpet, mari-mari aku tolong untuk melahirkan). Ibu Dongding dengan rasa takut, akhirnya keluar dari temat persembunyian. Dengan sigap Jro Balian, dengan rambut gimbal yang tak teurus membantu melahirkan. Begitu lahir bayi yang dikandung, langsung digendong dan dibelai-belai sambil tertawa.
        
Durga Taweng

              Tanpa berkata panjang lebar akhirnya anak dan Ibu-nya Donding dimakan bersama satu persatu, dan sisa tulangnya dibiarkan disamping ketungan. Karena perut yang kenyang, kemudian dia kedapur mencari air. Baru dibuka pintunya, kepalanya di bentur oleh talenan, kemudian baru dibuka tempat airnya, dia dipatuk oleh ular. Akhirnya Jro Balian, meningal karena di patuk ular. Kemudian I Donding dan Bapaknya keluar dari Bale Meten, sambil membawa celurit dan Alu. Ketika itu mereka berdua melihat seekor anjing, datang dari timur laut sambil melangkahi tulang belulang Ibu dan anak yang baru lahir tersebut. Akhirnya mereka dapat hidup kembali, seperti sedia kala.

Dari cerita di atas dapt dilihat ciri-ciri, orang yang mempelajari Ilmu pengeliyakan adalah: 1). Berpakian kumat, artinya pakiannya jarang dicuci dalam keseharian hidupnya, 2). Berwajah Cinging, artinya suka mengganggu atau aji Wegig, 3). Rambut gimbal, artinya jarang berkeramas, 4). Menggunakan ayam merah (biying), artinya memuja Dewa Brahma, dalam ajaran yang disebarkan melalui emosional yang sering disebut Dewi Durga, 5). Bersuara klipit, artinya memiliki banya kutu besar-besar, akibat rambutnya tidak pernah dicuci. Pada umumnya penbgeliyakan adalah seperti di atas, tapi tidak semua ciri-ciri ini tidak berlaku semua pengeliyakan, karena banyaknya jenis-jenis pengeliyakan, seperti disebutkan di atas bahwa Ni Calonarang dapat berubah wujud sampai 1000 kali, artinya paling tidak ada 1000 ciri, dan setiap perubahan minimal ada 5 ciri (ww).

Penulis : I Wayan Watra, FIAK-UNHI
Tanggal : 2012-08-05
TAKSU
MAJALAH KEBUDAYAAN BALI ISSN:1907-834X

Jika Kamu Suka Dengan Postingan ini, Bagikan Link Ini Sesuka kamu



»»  Baca selengkapnya.....